Senin, 03 Oktober 2011

Sejarah psikologi

SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLOGI
            Sejarah mengenai perkembangan psikologi  yang awalnya  bermula dari para filsuf adalah sebagai berikut,
I.                   Psikologi Sebagai Bagian Dari Filsafat
Awal mula dikenal adanya ilmu psikologi adalah berasal dari para filsuf sejak sebelum masehi. Pada saat itu, ilmu psikologi masih menyatu dengan filsafat, dikatakan demikian dapat dimungkinkan karena  ahli filsafat pada saat itu adalah ahli psikologi juga. Dimulai oleh Pythagoras (572-497 SM) melalui pendapatnya yang menyatakan bahwa jiwa merupakan bahwa jiwa merupakan sesuatu yang berdiri sendiri dan tidak dapat mati (Hadiwijono, 1980 a : 19). Perkembangan Psikologi dilanjutkan kemudian dengan hadirnya berbagai pandangan dari filosof-filosof besar, yaituSocrates, Plato dan Arbistoteles.

Para ahli filsafat seperti Plato (429-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), telah memikirkan hakikat jiwa dan gejala-gejalanya. Pada zaman kuno, tidak ada spesialisasi dalam lapangan keilmuan, sehingga boleh dikatakan bahwa semua ilmu itu adalah filsafat, dan filsafat adalah induk dari ilmu pengetahuan (Sobur,2003:74).

Psikologi menurut para filsuf :

a.       Psikologi Plato
Seorang murid Socrates, yaitu Plato yang seorang filsuf Yunani, lahir pada 29 Mei 429 SM di athena. Ia Berpandangan bahwa jiwa dan tubuh merupakan dua kenyataan yang harus dibeda-bedakan dan dipisahkan. Pendapat ini dikenal dengan istilah dualisme Plato.
Dalam teorinya tentang “idea”, Plato melukiskan pertentangan antara kenyataan rohani yang tidak dapat mysnah, dan kehidupan didunia ini yang dialami secara indrawi; teori ini berkaitan dengan pandangannya mengenai terpisahnya jiwa manusia yang tak dapat mati dan badan yang akan musnah. Idea-idea itu mewujudkan adanya yang paling tinggi dan nyata, tetapi terarah juga pada idea tentang kebaikan yang terdapat disebelah sana, segala sesuatu yang ada. Nilai ini mendorong plato untuk menerjunkan diri kedalam kehidupan yang sehari-hari dan dengan demikian, Ia ingin membina watak manusia ditengah-tengah masyarakat polis itu.  Didalam alam raya pun, idea-idea itu berpengaruh dengan pemberian wujud pada alam kebendaanyang masih tanp[a wujud ( Peursen, 1991:251 ).
b.      Psikologi Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles merupakan murid dari plato, pada usia tujuh belas tahun, aristoteles dikirim ke Akademi plato di Athena. Aristoteles telah menciptakan karya dalam bisang psikologi, diantaranya yaitu De Anima (tentang sifat-sifat dasar jiwa) dan Parra Naturalia (essei-essei mengenai beberapa topik seperti sensasi, persepsi, memori, tidur dan mimpi).
Aristotles mengemukakan macam-macam tingkah laku manusia yang berbeda yang berbeda dengan tingkah laku pada organisme lainnya dalam De Anima, Tingkah laku menurut aristoteles adalah sebagai berikut:
1.      Tumbuhan , memperlihatkan tingkah laku pada taraf vegetatif.
2.      Hewan, selain tingkah vegetatif, juga bertingkahlaku sensitif (melalui panca indera).
3.      Manusia , bertingkah laku vegetatif, sensitif dan rasional.
Salahsatu teori dari metafisika Aristoteles yang penting ialah pendapatnya bahwa matter dan form  itu bersatu: matter memberikan substansi tertentu, form memberikan pembungkusnya. Setiap objek terdiri dari matter dan form (Mayer, dalam Tafsir, 1993:52). Jadi, ia telah mengatasi dualisme plato yang memisahkan matter dan form: bagi plato, matter dan form berada sendiri-sendiri. Ia juga berpendapat bahwa matter itu potensial dan form aktualitas (Sobur,2003:78).
c.       Psikologi Rene Descartes (1596-1650 M)
Menurut Descartes,  manusia terdiri atas dua macam zat yang berbeda secara hakiki, yaitu res cogitans atau zat yang dapat berpikir, dan res extensa atau zat yang mempunyai luas ( gerungan, 1987:7). Dan definisi psikologi menurutbya ialah ilmu pengetahuan mengenai gejala-gejala pemikiran, atau gejala-gejala manusia terlepas dari badannya.
Mengenai tingkah laku manusia Descartes membaginya atas (Dirgagunasa,1996:18):
1.      Tingkah laku rasional, berhubungan dengan jiwa yang disebutnya Unextended Substance
2.      Tingkah laku mekanis, yang berhubungan dengan badan yang disebutnya dengan exstended subtance.
Descartes menjabarkan tiga jenis ide, yakni:
1.      Ide-ide bawaan (innate ideas)
2.      Ide-ide buatan (factitious ideas)
3.      Ide-ide yang tidak disengaja (adventitious ideas)

d.      Psikologi John Locke (1632-1704 M)
John Locke adalah seorang filsuf inggris yang dilahirkan di Somersetshire, Bristol.
“ Dalam buku Essay Concerning human under standing, Locke( Dirgagunarsa,1996:19) mengemukakan bahwa kalau suatu benda dapat dianalisis sampai sekecil-kecilnya, demikian pula dengan jiwa manusia. Locke menyetujui apa yang dikemukakan oleh James Mill yang terkenal dengan reductio ad absurdum. Jiwa manusia diibaratkan sebagai mental chemistry dikatakannya bahwa unsur atau elemen terkecil dari jiwa manusia adalah simple idea ”(sobur, 2003:82).
Dalam konsepnya mengenai tabula rasa, locke menyatakan, semua pengetahuan, tanggapan, dan perasaan jiwa manusia diperolehkerena pengalaman melalui alat-alat inderanya, beberapa hal penting dalam konsep John Locke (Sobur,2003: 84).:
1.      Pikiran sebelum lahir/pengalaman tertentu : seperti sebuah lembaran yang kosong.
2.      Melalui rangsangan dari dunia luar, sensasi-sensasi(ide sederhana) tercatat pada lembaran itu.
3.      Aktivitas seperti itu merupakan sumbar dan dasar seluruh pengetahuan serta pemikiran.
4.      Tidak ada ide atau bawaan sejak lahir.
5.      Pikiran adalah sebuah entitas pasif, sebuah wadah yang dapat menerima rangsangan, sensasi, ide, pengetahuan tetapi tidak bisa mengkreasinya sendiri.

e.       Psikologi Leibniz (1646-17-16)

“Berkenaan dengan konsep materi dan kuantitas, Leibniz dalam disertasinya mengutarakan dugaan bahwa materi dan kuantitas sama saja. Ia menempatkan materi dengan roh pada taraf yang sama, berlainan dengan Descartes yang mempertentangkan materi (substansi luasa) dengan jiwa (substansi berpikir). Secara dinamis, Leibniz menggambarkan kenyataan yang bila dipandang dari dalam, terdiri atas unsur-unsur daya rohani(modane). Akan tetapi kalau unsur-unsur itu didekati dari luar, tampak sebagai materi dan keluasan. Konse kuantitas ini makin menghamparkan konsep materi , bahkan pengertian tentang ruang bukan kosong lagi, melainkan dipersempit, disamakan dengan angka dan ukuran. Pendekatan ini mendekati apa yang dalam filsuf modern disebut formalitas,. Dalam hubungan ini Peursen menandaskan” (Sobur,2003:87)

f.       Psikologi George Berkeley
Inti dari doktrin Berkeley  yang terkenal yaitu “Esse est Percipi” yaitu yang ada adalah untuk dipersepsi.hal ini dapat di artikan bahwa segala sesuatu yang ada harus dipersepsi. Berkeley menyebut hal-hal yang dapat dipersepsi sebagai sesuatu yang dapat diindrai atau kualitas-kualitas yang dapat diindrai; terkadang ia menyebutnya ide-ide atau sensai-sensasi (sobur,2003:89). Dalam pernyataan  Esse es Percipi, Berkeley menekankan bahwa semua yang ada diluar manusia hanya ada sebagai persepsi (Alisjahhana,1986:2)
g.      Psikologi David Hume (1711-1776M)
Dalam teori bundle theory of mind Hume menyatakan bahwa pikiran tak lebih dari seberkas atau sekumpulan persepsi berbeda, yang bergantian satu sama lain dengan kecepatan tak tercermati, serta berada dalam perubahan dan pergerakan terus-menerus. Pikiran bukanlah substansi mental tapi semata-mata seberkas pengalaman yang terjadi berurutan..seluruh rangkaian tersebut membentuk kumpulan yang dinamakan pikiran yang dihubungkan oleh ciri: (a) Keserupaan persepsi, (b) kedekatan pengalaman waktu dan tempat, (c) keteraturan antar persepsi, (d) memori (Sobur, 2003:94).
 Tiga dalil asosiasi menurut Hume:
·         Asosiasi karena berdekatan dalam waktu dan ruang
·         Asosiasi karena persamaan arti
·         Asosiasi karena sebab akibat
h.      Psikologi John Stuart Mill

John Stuart Mill seperti ahli-ahli terdahulu juga banyak mempelajari persepsi dan ide (Dirgagunarsa,1966).ia menerima pendapat para ahli sebelumnyabahwa persepsi dan ide adalah elemen-elemen yang sistematis dari jiwa. Berbagai elemen itu dihubungkan oleh asosiasi, dan berlaku melalui dua prinsip, yaitu similarity dan contiguity (Sobur,2003:98).


II.                Psikologi sebagai ilmu yang mandiri

Psikologi dinyatakan sebagai ilmu mandiri yaitu oleh Wilhem Wund bersama para asistennya yaitu Helmholtz, Weber,dan Fechner, yang ditandai dengan didirikannya labolatorium psikologi pertama. Tepatnya di Leipzig, tahun 1879. menandai lahirnya Psikologi sebagai ilmu yang mandiri, terpisah dari filsafat dan ilmu alam. Wundt adalah orang pertama yang mengenalkan istilah “Psikologi Eksperimental” dan mensosialisasikan ajaran instrospeksi, yaitu pemeriksaan keadaan mental diri sendiri. Ajaran Wundt banyak berpengaruh pada ahli-ahli Psikologi, seperti Ebbinghaus, Muller, Brentano, Stumpf, dan Kulpe. Hal-hal yang diteliti dalam labolatorium tersebut  mengenai persepsi, reproduksi, ingatan, asosiasi dan fantasi.
Dengan berdirinya psikologi sebagai ilmu mandiri, timbul berbagai psikologi dengan corak khusus, diantaranya:
a.       Psikologi lama (kuno):
1.   berupa psikologi unsur yang mendasarkan pandangan pada elemen dan unsur yang berdiri sendiridan diselidiki sendiri-sendiri.
2.   Mencari hukum sebab-akibat,hukum kausal dan bersifat mekanis dalam peninjauannya.
3.   Psikologi dalam peninjauannya selalu mendasarkan pada peninjauan kehidupan kejiwaan dalam hubungannya dengan subjeknya.
                                    b. Psikologi Modern
1.      mendasarkan peninjauannya pada psikologi totalitas
2.      meninjau kehidupan kejiwaan dengan melihat hubungan kejiwaan sebagai bagian dari manusia.
3.      Selalu mendasarkan pada peninjauan kehidupan kejiwaan dalam hubungan dengan subjeknya.

III.             Aliran-aliran psikologi

1.      Strukturalisme
Strukturalisme itu sulit dikenali karena mencangkup bentuk-bentuk yang beragam sehingga sulit menampilkan sifat umum dan karena  struktur yang dirujuk memiliki arti berbeda. (Piaget,1995:1)
Strukturalisme merupakan aliran yang pertama dalam psikologi, karena pertamakali ditemukan oleh wundt setelah setelah ia melakukan eksperimen-eksperimennya di labolatorium Leipzig. Tahun 1893, Edrward Titchener 91867-1927), seorang murid Wundt yang sangat terkenal, mengembangkan Psikologi di Amerika Serikat dengan mendirikan Laboratorium di Cornell. Titshener mengaku bahwa meskipun ia adalah pengikut Wundt yang setia namun ia mengembangkan suatu pendekatan tersendiri. Pandanagan strukrualisme-nya berdasarkan pada hasil inrospeksi dan bersifat mekanistik, yaitu memilakh pengalaman manjadi unsure-unsur yang hanya memiliki makna bila bersatu (yang kemudian disetujui oleh para penganut gestalt). Struktualis juga mempermasalahkan tentang “apa” dan “di mana”dan menolak adanya Psikologi terapan. Aliran ini bertahanb hingga 25 tahun dan berakhir ketika Titchener wafat(Benson & Grove, 2001 : 42-43).
2.      Aliran fungsionalisme
Muncul kemudian suatu pandangan yang bertentangan dengan struktualisme , yaitu fungsionalisme yang bertitik beratkan pada cara berjalannya fungsi otak yang dilatarbelakangi oleh kesadaran Darwin dan Galton serta  Herbert Spencer (1820-1903). .
Fungsionalisme mempermasalahkan tentang “bagaimana” dan “mengapa” dan mencoba untuk menereapkan Psikologi dalam kehidupan sehari-hari. Fungsionalisme dipelopori oleh William James (18421910), Jonh Dewey (1859-1952), James Angel(1869-1949) dan Harvey Carr (1873-1954) (Benson & Grove, 2001 : 42-46).
William James (1842-1910) tertarik pada konsep kesadaran sebagai hasil dari aktivitaas otak, hingga kemudian ia menciptakan “aliran kesadaran” untuk menggambarkan proses yang berkesinambungan (bukan berupa unsur-unsur). Ia banyak mempelajari tentang telepati, paranormal, spiritualisme, dan lain-lain, yang membuanya dianggap tidak ilmiahdan bahkan dijauhi oleh sebagian ilmuwan. Melalui bukunya Talks to Teachers(1899), ia mulai banyak melakukan penerapan yang penting pada lapangan Psikologi Pendidikan.
John Dewey (1859-1952) adalah seorang ilmuwan yang pragmatis (menyetujui apa saja yang efektif dalam pelaksanaan). Ia menerbitkan buku Psikologi Amerika pertama yang berjudul Psychology (1886). Dewey tidak menyetujui konsep “dikotomi” tentang pemisahan jiwa-raga, fakta-nilai, pikiran-tindakan, individu-masyarakat. Dewey banyak meneliti tentang evolusi yaitu yang berkaitan dengan perjuangan manusia untuk hidup. Perhatian Dewey terhadap dunia pendidikan melahirkan pandangan bahwa sekolah harus menjadi tempat anak-anak berinteraksi dan bereksperimen, menurut kebutuhan dan “keingintahuan intelegensinya” masing-masing. Ia melihat bahwa anak-anak sebagai mahluk yang aktif yang dibentuk dan membentuk lingkungannya (Benson & Grove, 2001 : 44-45).
James Angell (1869-1949) secar formal mengubah fungsionalisme menjadi sebuah mazhab pemikiran “Aliran Chichago”. Menurutnya kita harus memandang semua kerja kesadaran-semua sensasi, emosi, dan keinginan kita, sebagai pengungkapan adaptasi organic terhadap lingkungannya, yang merupakan adaptasi social maupun fisik. Angell(1906) menyimpulkan pokok-pokok ajaran fungsionalisme sebagai berikut :
·         Fungsionalisme dipandang sebagai aliran Psikologi yang menyelidiki fungsi jiwa, bukan unsurnya.
·         Fungsionalisme memandang Psikologi sebagai ilmu yang menyelidiki penyesuaian diri organisme terhadap lingkungan sekitarnya. Fungsi utama dari tindakan manusia adalah memberikan kepuasan bagi organisme., sedangkan kesadaarn berfungsi sebagai penyesuaian terhadap situasi-situasi baru.
·         Psikologi fungsionalisme tergolong dalam pandangan psiko-psikis yang memandang jiwa-raga sebagai suatu totalitet atau kebulatan yang tidak terpisahkan. Fungsionalisme mempelajarilandasan psikologis dari peristiwa-peristiwa kejiwaan (Masrun, 1975 : 121).
Harvey Carr (1873-1954) muncul ketika fungsionalisme berpindah dari pikiran (subyektif) dan kesadaran, kepada mempelajari tingkah laku (obyektif). Ia menyatakan berakhirnya fungsionalisme ketika tidak lagi ada persaingan pandangan antara stukturalisme dan fungsionalisme, yaitu saat semua orang menjadi “fungsionalis”. (Benson & Grove, 2001 : 46).
3.      Aliran Psikoanalitis
Aliran Psikodinamika (1896) yang berarti “jiwa yang aktif”, dipelopori oleh SigmundFreud (1856-1939). Aliran ini pada pelaksanaannya sering menerapkan teori psikoanalisis sehingga kemudian banyak orang menyebutnya sebagai aliran Psikoanalisis. Istilah Psikoanalisis pertama kali digunkan oleh Freud. Istilah ini menggambarkan berbagai teori dan teknik yang digunakan untuk mencari dan menyebuhkan masalah mental manusia.
Pokok ajaran dari Psikoanalisis antara lain :
1.      Tentang kesadaran, pra-sadar, dan ketidaksadaran jiwa yang dianalogikan dengan menggunakan fenomena gunung es.
2.      Libido yaitu energi bawaan sejak lahir yang kita miliki yang memotivasi dan membuat kita mampu bertahan hidup. Salah satu bentuk libido adalah kegiatan seksual.
3.      Id, ego, superego. Id adalah berkaitan dengan prinsip kesenagan, ego berkaitan dengan prinsip kenyataan, sedangkan superego merupakan penjaga moral atau kata hati.
4.      Tahap perkembangan psikoseksual, yaitu oral, anal, phalik, laten, genital.
5.      Mekanisme pertahanan diri yaitu cara untuk melindungi diri dari hal-hal yang tidak menyenangkan secara tidak sadar (Benson & Grove, 2001 : 48-58).
Melihat pokok ajaran diatas nampak bahwa Psikoanalisis menyentuh hamper semua aspek kehidupan manusia. Tokoh-tokoh lain yang turut mengembangkan Psikoanalisis adalah Alfred Adler (1870-1937), Carl Jung (1875-1961), Karen Homey (1885-19520,Erich Fromm (1900-1980) dan Erik Erikson (1902-1994)

4.      Psikologi Gestalt

Psikologi Gestalt mengkaji masalah tingkah laku dan pengalaman sebagai kesataun totalitas. Ajarannya menyatakan bahwa melihat keseluruhan jauh lebih berarti daripada melihat bagian per bagian. Konstribusi terbesar dari aliran ini adalah di bidang persepsi dan belajar. Pemikir utama aliran ini adalah Max Wertheimer (1880-1943), WolfgangKohler (1887-1967), dan Kurt Koffka (1886-1941) (Chaplin, 1997 : 208).
Menurut psikologi Gestalt, manusia tidak memberikan respon pada stimuli secara otomatis. Manusia adalah organisme aktif yang menafsirkan dan bahkan mendistorsi lingkungan .” Pada mulanya psikologi Gestalt hanya menaruh perhatian pada persepsi objek. Beberapa orang menerapkan prinsip-prinsip gestalt dalam menjelaskn perilaku sosial.
5.      Aliran Behaviorisme
Aliran Behaviorisme berakar dari pemikiran filosofis tentang asosiasinisme yang mempelajari cara pikiran saling berhubungan dan mencoba untuk menemukan “hukum” yang menggambarkan dan menjelaskan tingkah laku (Benson & Grove, 2001 : 60). Pokok ajaran behaviorisme adalah mengenai tingkah laku tanpa mengkaitkannya degnan konsep kesadaran atau mentalitas. Tokoh-tokoh yang mengembangkan aliran ini antara alin IvanPavlov (1849-1936), Jonh B Watson (1878-1958), Karl S Lashley (1890-1958), BF Skinner (1904-1990) (Chaplin, 1997 : 54-55).

          Sumber:  Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum, Bandung: Pustaka setia
                       

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar